Tuesday, April 3, 2012

Sunday, August 14, 2011

SETELAH 2 TAHUN MENYEPI



Setelah 2 tahun aku menyepi dalam laman blog ni...15 ramadhan nie baru teruja kembali untuk berblog kalu ikutkan banyak yg nak diupdatekan...tp kali ni aku buat fasa demi fasa al maklumlah 2 tahun tak update..2 tahun sebelum ni akau ada 5 komitmen tp bg tahun ni aku dh kurang 1 komitmen ...dh abis master pembangunan tnh tu yg bz kebelakangan ni...dan komitmen keje kurang berat sikit dari sblm ni...tahun ni aku berat perut je...Alhamdullillah aku sedang mengandungkan anak yang ketiga setelah anak aku yg ke2 berumur tahun...aku teruja update blog dari bulan 01/2010 hingga sekarang...hihihih ikut kemampuan dari segi masa n tenaga...




Saturday, August 1, 2009


Manusia apapun agama dan keturunannya secara sadar ataupun tidak dia sadari, mereka sangat menginginkan kebahagiaan dan kemakmuran. Bahkan manusia itu sangat khawatir dirinya celaka, rugi dan merana. Namun kebanyakan dari kita berusaha sekeras tenaga dan mengorbankan banyak harta
Dalam memenuhi hasrat umat manusia sebagai khalifa-Nya ini, maka Allah swt Yang Maha Bijak (al-Hakim), Maha Mengetahui (al-Alim), Maha Panyayang (al-Rahiim) itu, telah memerintahkan kita untuk berpegang kepada dua perkara saja, yaitu al-Quran dan sunnah nabi-Nya.
Sejak nabi Adam dan sayidatuna Hawa as diturunkan kemuka bumi, maka bemulalah episode baru dalam kehidupan anak umat manusia, episode kehidupan dunia yang dipenuhi dengan persaingan, persaingan antara yang hak dengan yang bathil dan pertarungan antara akal dengan hawa nafsu.
Manusia cenderung untuk mengikuti hawa nafsunya, karena begitulah diciptakan manusia menyukai perkara-perkara yang dapat menyenangkan dirinya walaupun “terkadang” dia menyadari jika perbuatannya itu hanya menghasilkan kesenangan berifat sementara dan bahkan terkadang dia juga menyaadri bahwa kesenangan yang diraihnya saat ini dapat menyebabkan kesengsaraan bagi kehidupan akhiratnya.
Demi melihat begitu lemahnya hamba yang bernama manusia itu dan jahilnya mereka ini, maka tidaklah cukup akal itu membimbing mereka kearah kejayaan ataupun kesuksesan. Karena akal itu ternyata memiliki kemampuan terbatas dan akal itu ternyata cenderung sering dikuasai oleh sang nafsu sehingga “cahaya mata” akal menjadi redup dan tidak dapat melihat jalan kebenaran dengan baik, dia terkadang tak ubahnya bagaikan seorang yang sedang mabuk, dia tidak dapat berdiri dengan tegak, dan tidak pula dia dapat bertutur dengan betul.
Apabila redup cahaya akalnya dan berkobar api nafsunya, maka mudahlah bagi pemangsa sang Iblis menerkam dan mengunyah keimanannya, jika musnah keimanannya sungguh binatang ternak itu lebih baik dari perangainya.
Allah swt berfirman didalam surah al-Araf ayat ke 179 seperti berikut :
(وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ) (الأعراف : 179 )
Yang bermaksud :
Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. Al-Araf : 179)
Agar supaya fungsi akal itu dapat sempurna, maka diberikanlah kepada manusia “sang khalifah” itu tiga perkara asas yang paling penting untuk keperluan akal fikirannya. Tiga perkara asas untuk menyempurnakan fungsi akal itu sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat diatas sebagai berikut :
Pertama : Hati.
Dengan hati ini, manusia dapat merasakan benar dan salahnya suatu perbuatan atau tindakan, dengan hati itu pula “sang khalifah” dapat menilai.
Hatinya dapat menerbitkan segala keinginan-keinginan ntah itu keinginan yang baik ataupun yang buruk. Dengan hatinya juga manusia dapat melihat sentuhan-sentuhan yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar, dengan hati itu pula insan dapat mendengar bisikan-bisikan yang tidak dapat didengan oleh telinga kasarnya.
Hatinya telah membentuk kejiwaannya dan kepribadiannya, jika baik hati itu maka baik pula kejiwaan ataupun kepribadiannya, namun, jika rusak hati itu maka hancur pula kejiwaan dan kepribadian “sang khalifah” itu.
Begitulah pentingnya peranan sang hati bagi keutuhan akal sang khalifah, bahkan pandangan Allah swt hati jugalah tempatnya.
Kedua : Mata.
Untuk membantu hati itu dapat menilai dengan betul dan supaya hati itu tidak tersilap langkah, maka sang khalifah diberikan kepadanya dua mata yang bagus, dan tidak ada mata yang lebih bagus dari kedua matanya.
Dua bola mata yang kecil itu diletakkan diatas sebuah wajah yang baik, maka sempurna pula wajah itu, senang semua orang melihat kearah wajah itu karena mata itu begitu indah mempesona orang yang memandang kearahnya.
Tugas mata itu tidak hanya untuk mempercantik seri wajah “sang khalifah”, akan tetapi itulah dua bola mata yang dapat melihat dunia yang luas, sehingga tidaklah sempit akal yang tersimpan didalam hati itu.
Ketiga : Telinga.
Dengan akal, manusia masih sering tertipu. Dengan mata, manusia masih sering tersilap mata. Maka satu lagi indera atau deria yang mutlak harus dimiliki oleh “sang khlifah” iaitu telinga.
Mata itu ternyata hanya dapat melihat objek sesuai menurut arah mana yang dia liat. Jika seseorang melihat seekor gajar dari sebelah hadapan, maka hati atau akal itu akan berkata “gajah itu berkepala besar dan berbelalai panjang” namun tatkala gajah itu diperhatikan dari belakang, maka sang akal atau hati berkata “Oh gajah itu ternyata tidak berkepala tetapi berekor kecil”. Demikianlah senangnya mata dan hati itu tertipu. Namun dengan telinga, dari arah manapun “sang “khalifah itu berdiri, bahkan tidaklah gajah itu ada dihadapannya ataupun dihadapannya jika gajah bersuara, maka taulah dia kalau itu suara gajah dan bukan suara badak ataupun kuda Nil.
Malangnya ketiga unsur asas ini tetap saja tertipu…
Padahal musuhnya hanya satu…
Iaitu sang nafsu.
Jika nafsu saja yang bermain didalam hatinya, pandangan dan pendengarannya, maka hilanglah kemuliaan “sang khalifah” itu. Walaupun binatang itu lebih “buruk rupa dan keadaannya” jika dibandingkan “sang khalifah”, namun lebih muliah mereka berbanding “sang khalifah” karena binatang sedianya diciptakan untuk memakan rumput dan tidak berlomba-lomba mengejar harta dunia, berbanding “sang khalifah” yang memiliki akal atau hati, namun hati itu tidak dapat membezakan yang hak dari yang bathil, mata itu tidak pernah melihat kebenaran, telinganya tidak pernah mendengar panggilan keimanan. Maka tentulah dalam keadaan seperti ini, manusia itu lebih celaka dari binatang-binatang pemakan rumput itu.
Demikianlah “sang khalifah” sarat dengan kekurangan namun menyombongkan diri (bangga diri), lemah tubuh badan dan akalnya namun menjadi pembangkang yang nyata, pendek umur dan usianya namun panjang angan-angannya, dekat malaikat maut kepadanya namun jauh keinsafan dari hatinya.
Maka Allah swt berpesan setelah diturunkan nabi Adam dan Hawa kemuka bumi, seperti yang dijelaskan didalam al-Quran sebagai berikut :
(قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ) (البقرة : 38 )
Yang bermaksud :
Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (Q.S. Al-Baqarah : 38)
Apakah pesan Sang Pencipta itu? Apakah wasiat Yang Maha Bijak itu? Apakah nasehat Sang Maha Mengetahui itu?
“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati"
Jika dia seorang penulis, maka pena dan kertas menjadi curahan hatinya, jika dia seorang nakhoda, maka kemudi menjadi juru selamatnya dan jika dia seorang ahli nujum, maka bintang gemintang menjadi sandarannya, dan jika semua mereka itu adalah “sang khalifah”, maka hanya al-Quran dan sunnah nabi sebagai penjaminnya dan pelipur laranya.
Begitu indahnya janji itu, begitu hebatnya janji itu, “sang khalifah” dijanjikan tidak ada kekhawatiran dan dijanjikan tidak bersedih hati selama bersama kedua.
Rasulullah saw bersabda :
عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خلفت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتي
Bermaksud :
Telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara tidak akan kamu tersesat (celaka) setelah kamu berpegang dengan keduanya, kitab Allah (al-Quran) dan sunnahku. (H.R Daru Qutni dan Baihaqiy)
Padahal, perkara yang sangat tidak disukai oleh “sang khalifah” yaitu rasa khawatir dan bersedih hati. “Sang khalifah“ khawatir akan keselamatan dirinya, keselamatan anak isterinya dan usahanya, begitu juga sang khalifah sangat bersedih hati jika orang-orang telah menzaliminya.
Namun dengan berpegang teguh kepada kedua perkara tadi, Allah swt Sang Pencipta dan Yang Mengetahui itu telah menjamin, sekali lagi telah menjamin “tidak ada kekhawatiran” dan “tidak bersedih hati”.
Maka begitu jelas akan jaminan itu, dan inilah dia cita-cita yang hakiki yang ingin dituju oleh setiap insan, kebahagaiaan dan kemakmuran di dunia dan di akherat.
Maka begitu jelas akan jaminan itu , dan itulah kehancuran jika tidak “sang khalifah” berpegang kepada keduanya, celaka jiwa di dunia dan di akherat.
Maka begitu jelas akan jaminan itu, dan atas dasar apa lagi tidak hendak diri ini bersyukur atas segala nikmat petunjuk ini?!!!

Monday, July 27, 2009

MALAYSIA ACHIEVING THE MILLENNIUM DEVELOPEMENT GOAL



World leaders at the United Nations Millennium Summit held in New York in
September 2000 resolved to strengthen global efforts for peace, democracy,
good governance, and poverty eradication while continuing to promote the
principles of human rights and human dignity. The Millennium Declaration made
a strong commitment to the right to development, to gender equality and the empowerment of
women, to the eradication of the many dimensions of poverty, and to sustainable human
development. The Millennium Development Goals (MDGs) emerged as the principal means of
implementing the Declaration.
Since 1970, Malaysia has achieved a number of national developmental goals which
coincidentally cover essential elements of the MDGs. These achievements, and the favourable
position Malaysia now occupies in economic and social development, owe a great deal to the
ground-breaking policies and strategies that were envisioned in the Outline Perspective Plans
and systematically implemented through Malaysia’s national five-year plans. A comprehensive
account of the policies, strategies, and programmes that have enabled Malaysia to achieve
most of the MDGs is given in Malaysia: Achieving the Millennium Development Goals,
Successes and Challenges. This publication provides a graphic summary of the progress made.
It is aimed at a wider readership.
Poverty eradication, the primary objective among all the MDGs, was already of major
concern in 1970, when half of all households in Malaysia were living in poverty. By 2002, just 5
per cent of households were still classified as poor, although poverty levels still vary
considerably by state and ethnic group. The poverty-reducing approaches that succeeded in
Malaysia emphasized rural and agricultural development, export of labour-intensive
manufactured goods, and public investment in education, health, and infrastructure.
Universal primary education was achieved by 1990, by which time nearly all children were
completing primary school, greatly improving on the one-third of the population 6 years of age
and over that had never attended school in 1970. Attendance of girls had already caught up with
that of boys by 1970 and has increasingly exceeded that of boys at secondary and tertiary
levels. Employment rates of males and females partly reflect this trend but women’s multiple
responsibilities and more limited job opportunities mean that women are relatively underrepresented
in the labour force.
Child mortality and maternal health have recorded reductions to levels that are
exceptionally low in the region through a well-developed primary health care system and
access to quality water, sanitation, and nutrition.
Malaria has been virtually eliminated from most densely populated areas but the
prevalence of HIV/AIDS and tuberculosis are matters of major concern. The doubling about
every three years of the reported HIV cases is especially disturbing and while the problem is
concentrated in a small, high-risk group, the MDG target of halting and reversing the spread of
HIV/AIDS by 2015 is extremely challenging.
Foreword
3
M a l a y s i a A c h i e v i n g t h e M i l l e n n i u m D e v e l o p m e n t G o a l s
Sustainable development has been integrated into national development policies since the
late 1970s and factors such as access to a quality water supply have been a major success in
Malaysia. More challenging areas include implementation of national forestry management
policies at state levels and environmentally acceptable and efficient expansion of energygeneration
capacity to meet expanding demand.
In the contemporary world, isolationism and unilateral action are becoming increasingly
impractical. Malaysia favours participation in a global partnership for development that
benefits all countries willing to take part. In 1980, Malaysia established the Malaysian Technical
Cooperation Programme, a bilateral programme of cooperation designed to assist other
developing countries by sharing Malaysia’s development experiences and expertise in capacity
building and human resource development. Malaysia also plays a significant role in
cooperative regional groupings, including the Association of South-East Asian Nations
(ASEAN) and the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).
With the fulfilment of so many of the MDGs, the challenge for Malaysia is to maintain
momentum in dealing decisively with the remainder, and to identify the next set of tasks and
priorities that will keep the nation moving ahead in this exemplary way, continuing to set
precedents that others can emulate and moving towards its ultimate
objective of becoming a fully developed nation.
The key strategies now in place include developing a knowledge-based economy and
human resource development, accelerating structural transformation within the manufacturing
and services sectors, revitalizing the agriculture sector, and strengthening socio-economic
stability through enhanced public and private sectoral partnerships. Further progress towards
poverty eradication is expected to result from continued rapid economic growth assisted by
targeted poverty-reduction programmes.
National unity, political stability, and administrative continuity have been critical to this
success as, through consistent policies, continuous improvements, and an unswerving sense
of purpose, Malaysia has been able to bring about development, enhance education and skills
training, and reduce poverty rates throughout the country. Malaysia is now working to advance
up the economic value chain and further enhance its competitiveness, and it has set 2009 as
the target for total eradication of hard-core poverty.
In conclusion, we would like to thank all those who contributed to and participated in the
analysis and dialogue that led to the preparation of this publication. In particular, we would like
to thank our colleagues in the Economic Planning Unit, members of the National Steering
Committee, the United Nations Country Team in Malaysia, as well as Civil Society Organizations.
We hope this work will stimulate an even broader discussion of how Malaysia can progress
beyond the MDGs.
Raja Dato’ Zaharaton bt Raja Zainal Abidin Richard Leete
Director General Resident Coordinator
Economic Planning Unit United Nations
Prime Minister’s Department Malaysia
Malaysia

Sunday, July 26, 2009

MY LUV PARENT




In My Parent's Love
There is no place more gentle, more comforting,more reassuring, more peaceful than in Mommy's arms.There is no place more tender, more nurturing,more compassionate, or sweeterthan in my mommy's arms.There is no place more secure, more noble,safer or sillierthan in Daddy's arms.There is no placce warmer or strongeror livlier or more fun than in my daddy's arms.There is no place more inviting, more accepting,more caring, more encouraging,more playful or more comfortable than in my parent's love.

SIBLING RELATIONSHIP


Why are sibling relationships so important?
While friendships come and go, sibling relationships are permanent. We cannot choose our siblings as we do friends; that is what makes this relationship unique.
The sibling relationship has the longest duration of any human relationship! Next to our parents, who often know us from birth to adulthood, our siblings are likely to know us even longer. Because most siblings are within 10 years of age, we are likely to share a relationship for more years than any other family relationship.
Our siblings share with us a lifetime worth of memories and stories. For example, your sister may be the only other living person who remembers that vacation to Niagara Falls when you were children or your brother is the only one who can remember how your grandpa used to eat your vegetables behind grandma’s back. This shared history is priceless and becomes more valuable as we age.

SHORT ASSIGNMENT


TIPS MENULIS TUGASAN PENDEK (SHORT ASSIGNMENT)

1. PRA-KATA


1.1 Matlamat utama nota ringkas saya ini adalah untuk memberi panduan ringkas kepada peserta kursus MGN 1524 untuk menyediakan short assignment atas topic tertentu yang dipilih oleh peserta sendiri.


1.2 Nota ringkas ini bukan bertujuan untuk dijadikan panduan bagi peserta kursus ini menyediakah Thesis atau Kertas Projek panjang di akhir Semester nanti. Untuk itu, peserta dikehendaki merujuk kepada Panduan menulis Thesis yang ditetapkan oleh pihak pentadbiran UTM sendiri.



2. LANGKAH PERTAMA – MENCARI TOPIC


2.1 Ambil masa secukupnya untuk membuat bacaan secara umum (sepintas lalu) apa juga bahan yang sedia ada, mengenai beberapa topic yang menarik perhatian anda. Tujuan utama kerja di peringkat awal ini (preliminary survey) ialah untuk membantu anda membuat pilihan apa dia topic yang akan dijadikan topic penulisan / kajian lebih mendalam lagi.


2.2 Tuliskan / senaraikan apa sahaja idea awalan yang timbul dalam minda. Bila senarai itu sudah dikira mencukupi, berhenti membaca – fikir dan pilih mana satu topic dalam senarai yang akan menjadi focus penulisan.


2.3 Seperti saya sarankan dalam kuliah dulu, untuk membantu anda membuat pilihan mana satu topic yang wajar dipilih, “tanya kepala dan tanya hati”. Apakah topic yang anda rasa yakin boleh menulisnya dengan baik, dan apakah topic itu yang anda benar-benar minat?



3. LANGKAH KEDIA – BUAT MIND MAPPING


3.1 Bila topic sudah ditentukan, ambil masa secukupnya untuk berfikir lagi dan membuat peta minda (mind mapping). Istilah mind mapping ini bermaksud kita menggunakan aqal / minda kita sendiri untuk mengenal pasti apakah issue yang berbangkit, apakah pula sub-issue yang berbangkit dari itu, dan seterusnya. Kerja ini dipanggil “free thinking”, dibuat berseorangan. [Kalau kerja begini dibuat secara berkumpulan, biasanya proses itu dipanggil cambah fikiran – brainstorming].


3.2 Matlamat utama kerja membina peta minda ini ialah memberi kesedaran kepada anda kepada beberapa issue pokok dan issue sampingan yang mesti anda focus dan sentuh dalam karya yang dihasilkan.

3.3 Natijah dari kerja mind mapping ini ialah anda akan didorong / dipaksa untuk membuat kajian lebih mendalam lagi untuk “mencari jawapan” kepada issue dan sub-issue yang dikenalpasti atau disebutkan dalam peta minda itu.


3.4 Bila peringkat kerja mind mapping ini selesai (mungkin satu dua hari sahaja), anda terpaksa teruskan lagi kajian / bacaan lagi. Bezanya, kali ini bacaan dan kajian anda lebih tertumpu kepada perkara-perkara tertentu, lebih mendalam, dan lebih berhati-hati. Tetapi sebelum anda membuat kajian yang lebih mendalam dan teliti itu, terlebih dahulu anda disarankan mengambil Langkah Ketiga yang disebutkan selepas ini.



4. LANGKAH KETIGA – BUAT TETULANG


4.1 Setiap karya penulisan mesti ada tiga bahagian – INTRO, MAIN BODY, CONCLUSION.


4.2 Oleh itu, anda perlu terlebih dahulu membuat kerangka (framework) secara kasar apakah yang anda hendak dihasilkan. Apakah yang mesti ditulis sebagai INTRO, apakah yang perlu ditulis dalam the MAIN BODY, dan selanjutnya apakah CONCLUSION? [Ingat, tetulang ini bukan sesuatu yang rigid; jika perlu, anda masih boleh pinda atau ubah sekiranya difikirkan wajar].


4.3 Kalau kerja di peringkat membina peta minda dahulu telah dapat dijalankan dengan baik, ia pasti akan akan berupaya membantu anda membuat tetulang yang baik. Bila tetulang sudah siap, penulisan boleh dibuat untuk “memberi daging” kepada tetulang tersebut. Penulisa ini dihasilkan dari kajian mendalam yang disebutkan dalam perenggan 3.4 di atas tadi.


4.4 Untuk membantu anda memberi daging kepada tetulang itu, kajian perlu diteruskan untuk memantapkan lagi penulisan. Semasa membuat kajian yang lebih focus ini, pastikan anda sentiasa membuat catatan secara berhati-hati dan terperinci apa yang dibaca, misalnya –
(i) Nama buku, tajuk artikel etc yang dibaca
(ii) Siapa penulisnya / pengarangnya
(iii) Siapa penerbitnya
(iv) Bila diterbitkan, muka surat berapa dsb.



5. APA YANG ANDA HASILKAN


5.1 Sebagai pelajar lepasan ijazah, anda perlu ingat bahawa apa yang dikehendaki oleh pihak univerisiti ialah bukan hanya sekadar mengulangi semula / meringkaskan / memberi komen apa yang telah anda baca, apa yang dihasilkan / diperkatakan oleh orang lain (walau bagaimana pakar sekalipun orang lain itu).


5.2 Apa yang dicari / dikehendaki dari seorang pelajar lepasan ijazah ialah ”the creation of a new body of knowledge”. Justeru, setiap pelajar lepasan ijazah dikehendaki memeras otak lebih kuat lagi (berbanding kerja siswazah atau undergraduate) untuk menghasilkan satu karya asli yang merupakan, misalnya, pandangan / saranan baru bagaimana sesuatu masalah itu boleh diselesaikan, bagaimana sesuatu hal keadaan, undang-undang, peraturan atau amalan pentadbiran yang buruk atau kurang baik itu boleh / wajar diperbaiki demi kesejahteraan bangsa dan negara, dan kenapakah tindakan sedemikian itu perlu diambil, dsb.


5.3 Selain mempamirkan “intellectual courage” dalam menghasilkan “new body of knowledge” itu, anda sebagai pelajar lepasan ijazah juga perlu ambil peringatan tentang perlunya mengamalkan “intellectual honesty”. Elakkan dan hindarkan diri dari mengamalkan plagiarism. Jika anda memetik idea orang lain, buat “acknowledgment” sewajarnya (misalnya, dalam nota kali).



6. SAIZ


6.1 Untuk menghasilkan satu short assignment, anda dikehendaki mengemukakan kepada penyelaras / pensyarah karya lebih kurang 3000 perkataan – ataupun lebih kurang 8 hingga 10 muka surat, jika dicetak double spacing, siap dengan nota kaki (bukan nota hujung), bibliografi (senarai bacaan), termasuk kandungan, tajuk utama, tajuk kecil, dsb.




“SELAMAT BERKARYA”


Prof Salleh Buang